0

pipis, yuk!

salah satu kendala saat travel adalah menemukan toilet yang bersih & ada airnya! hahaha, disini, toilet pada umumnya ya ngga ada air nya jadi setelah pipis ya lap pakai tisu aja.. kebiasaan yang berbeda, tentu saja membutuhkan adaptasi lagi ngga hanya untuk kami tapi juga untuk Zuhara.

kendala lain adalah ketika si toilet belum tentu bersih, air aja ngga ada, you can expect how bad the smell lah ya hihihi.. keadaan jadi sulit ketika Zuhara yang ngga suka (sampai ngga mau pipis) kalau toilet nya smelly, sampai bisa menahan pipis yaaang tentu saja kita sudah tau bisa membawa efek yang ngga baik..

masalahnya lagiii, Zuhara itu ngga bisa dipaksa, ya mau diapain juga kalau ngga mau pipis ya bakal ditahan.. solusinya ya komunikasi produktif..

sebelum masuk toilet, Zuhara dikasihtau beberapa hal seperti :

bagaimana kondisi toilet nya, ya bau ya kadang lampunya mati sendiri dll

resiko nya nahan-nahan pipis

daaan belum tentu akan ada toilet lagi di tempat lain

setelah itu kita menunjukkan empati dengan bilang; mamah tau Zuhara ngga nyaman kalau toilet nya bau,

kemudian fokus pada solusi, apa yang bisa mamah & papah lakukan supaya Zuhara merasa lebih nyaman?

⁃ supaya ngga kecium baunya, tutup hidung

⁃ nanti toiletnya kita bersihin dulu,

⁃ nanti kalau lampunya mati Zuhara kan bisa ditemenin

alhamdulillah setelah dikasih solusi Zuhara akhirnya mau, selesai pipis Zuhara bilang : mah tadi lampunya ngga mati kok (sambil senyum)

lalu kasih pujian efektif, alhamdulillah Zuhara mau pipis ya, insyaAllah lebih sehat ya kalau ngga nahan pipis.

Advertisements
0

why oh WHY?

hari kedua di Jepang alhmdulillah Zuhara makin menikmati, dan karena dia cukup cerdas beradaptasi, maka di hari kedua ini dia mulai ‘feels like home’ kali yaaa, jadi apa-apa ya mau dia yang atur dan mau sendiri..

satu hal yang paling aku khawatirkan terkait liburan kali ini tuh, ya kalau Zuhara mulai ‘eksplorasi’ karena dalam beda tempat, beda rules. di Indonesia misalnya, kalau naik eskalator mau di kanan mau di kiri ya sama aja toh.. dia naik turun eskalator sendiri di mol ya insyaAllah aman.. bedanya kalau disini, naik eskalator sebaiknya di sebelah kiri kan (karena jalur sebelah kanan itu dipakai buat yang buru-buru).

nah hal-hal seperti ini justru yang kadang bikin ‘debat’ karena ngga ada di point briefing kemarin (lupa!) dan emang butuh pembiasaan, harus diingetin lagi & lagi.. sementara ketika kita mengingatkan, meskipun sudah pakai kaidah komunikasi produktif ya seperti mengatakan yang diinginkan : Zuhara jalannya di sebelah kiri ya, dengan intonasi dan ekspresi yang tepat & baik, sudah memenuhi kaidah KISS juga, kurang simple apa sih jalan di sebelah kiri ya! dipuji efektif juga udah..

pas dikasihtau juga pola komunikasinya sudah positif, eye level sejajar, ngga memperlakukan anak di depan umum. tapiii ya karena Zuhara ngga ‘dapet’ alasan ‘kenapa sihhh harus jalan di sebelah kiri?’ akhirnya beberapa kali dia ‘lupa’ dan harus diingetin lagi & lagi.. sekali, dua kali, masih berasap, selanjutnya inget kata Einstein : insanity is doing the same thing over and over and expecting a different result. karena aku ngga mau masuk ke kategori ‘insane’ maka cepet-cepetlah sadar gimana cara menyampaikan ke Zuhara kenapa siiih harus jalan di sebelah kiri..

akhirnyaaah, setelah berdiskusi dengan komunikasi produktif lagi, Zuhara ngerti kenapa jalan harus di sebelah kiri. memperhatikan cara jalan orang Jepang yang gesit, utilizing moment saat ada yang menyalip di jalur sebelah kanan, dan menanyakan pada Zuhara sendiri, kira-kira apa yang bikin kita perlu sih jalan di sebelah kiri?

apa saja pola yang digunakan untuk menjelaskan ‘alasan’ suatu aturan diperlukan? yang aku lakukan sih lebih ke menunjukkan empati (excited dan bersemangat yah Zu) kemudian ikut ‘curhat’ dan meminta solusi sehingga solusi dari kegalauan mamah itu ditanyakan dan dinawab oleh diri sendiri. selain itu kita jg membuat kesepakatan cara mengingatkan Zuhara gimana? jadi pas melanggar ya diingatkan lagi berdasarkan kesepakatan tersebut..

alhamdulillah lebih efektif lah setelah diingatkan.. mohon do’anya semoga Zuhara sekat ya.. disini dingin bangettt

0

detektif kebaikan mode : on!

alhamdulillah, hari ini perjalanan kami dari CGK ke NRT berjalan lancar.. pun jalan-jalan ke tokyo tower jg alhamdulillah ngga ada hambatan yang berarti..

karena kemarin-kemarin radar detektif kebaikan ku rada-rada off, sehingga membangkitkan respon yang kurang oke, maka hari ini aku hampir selalu mengingat untuk : memberikan pujian efektif kepada Zuhara. karena memang luar biasa sekali sih endurance nya menurutku, bangun dari jam 2 pagi.. langsung mandi, siap-siap ngga pake rewel samaaa sekali! jalan jauh di bandara, 7 jam di pesawat, daaan nunggu dan jalan lagi dan lagi dan lagi.. hahaha, tapi akhirnya naik stroller juga sih dia (ini pertama kalinya kami pergi travel bawa stroller)

yang cukup seru juga ketika Zuhara mau menawarkan kertas warna & meminjamkan pensil warnanya kepada temannya di pesawat daaan ngga ngomentarin saat temennya rewel.. cuma nanya kenapa mah? gtu aja..

terus semuanya smooth & lancar, tentu tidak. tapiii kalau dibandingkan dengan manisnya Zuhara hari ini ya ngga berarti banget lah.. saat di tokyo subway Zuhara sempet gonta ganti posisi duduk dan kakinya kena sama bapak2 di kereta, bicaranya belum bisik-bisik dll, stlh kejadian itu, aku menggunakan kaidah komunikasi positif untuk menegur Zuhara.

kaidah yang aku gunakan tentu saja pertama menerima perasaannya, kedua ngga membuat malu di depan umum, serta terakhir kontak mata sejajar saat memberi tahu

beberapa kali jg Zuhara bilang pengen roti (karena lapar) tapi kondisi ngga memungkinkan untuk makan (mau landing) dan harus lanjut jalan maka cukup dengan menunjukkan empati & fokus pada solusi akhirnya Zu bisa makan roti dengan tenang sambil nunggu papah beli-beli

beberapa kali jg Zuhara bilang capek, ingin naik stroller, tapi karena kondisi ngga memungkinkan, ya dia harus jalan.. maka setelah diberi pengertian dan kami bilang iya nanti kalau memungkinkan kondisinya Zuhara naik stroller maka mengerti. penting sih untuk jadi orangtua yang ngga mengancam kosong atau berbohong agar anak tau kalau omongan kita bisa dipegang..

alhamdulillah dengan briefing semua jadi mudah yaaa.. ngga rugi deh kemarin-kemarin siapin slide presentasi & role playing..

0

ngerti dong, the story about taking things for granted

hari ini aku & Isa merasakan keribetan packing.. banyak yaaa yg harus dibawa untuk berpergian selama 15 hari.. kesibukan kami tentu saja bikin Zuhara jadi ngga terperhatikan..

kita berdua tau kalau Zuhara ngga dikasih kegiatan, suka adaaa aja yang dieksplorasi, dan tentu saja di saat lagi kerepotan & mendapati hasil eksplorasi yang ih waw itu rasa-rasanya manis asem asin gtu lah. rame!

kita lupa sih ngasih tau Zuhara bahwa hari ini akan lebih riweuh & dia harus mencari kegiatan sendiri.. hasilnya, ya ngga bisa full fokus ngerjain packing.. karena ya harus membagi perhatian juga kan sama Zuhara.. lumayan roller coaster sih emosi saya hari ini, baruuu aja bentar damai & tenang, beberapa saat kemudian, tetooottt, kzl lagi.

setelah ditelusuri, salah satu selftalk yg bikin saya banyak kzl hari ini karena (lagi-lagi) ekspektasi yang berlebihan. HARUSNYA Zuhara ngerti dong, kalau kita lagi ribet, kok kelakuannya ada-ada aja sih. ya begitulah, ngga muncul nih ‘si waras’ yang bilang : emang siapa yang mengharuskan?

so, apa saja yang terjadi hari ini? mostly menunjukkan empati (yang setengah-setengah i guess) & berusaha fokus pada solusi (tapi malah jadi nafsu ingin dituruti ya) tetap dilakukan.. selama packing aku memberi Zuhara berbagai aktivitas yang bisa dia kerjakan sendiri, seperti sorting beads dgn sumpit, meronce, dot-to-dot namanya sendiri, menyusuh short beads stairs, dll

tapi ya mungkin karena perhatian kami sama sekali ngga terpusat pada Zuhara dan state emosi saya hari ini juga lagi ngga bener, pasti kerasa lah.. excited campur nervous ya.. jadinya lagi-lagi kurang mengapresiasi hal baik yang Zuhara lakukan (taking things for granted) & alih-alih menegur efektif aku malah kebawa selftalk minta dingertiin. egois yaaa..

in the end of the day, aku bikinin Zuhara mie rebus untuk ‘menebus dosa’ yang tak tertebus. dia nanya : kok mamah bikinin Zuhara mie rebus / iyaaa soalnya tadi mamah udah bikin Zuhara sedih.. ya walaupun mamah udah minta maaf, mamah harus berusaha kan supaya Zuhara seneng.. (at least dgn melakukan hal ini aku berusaha jadi role model, bahwa melakukan kesalahan sama orang lain itu ngga cukup hanya dengan maaf, tetapi juga berusaha untuk mengembalikan kegembiraan atau at least menghilangkan kesedihan orang yang kita mintai maafnya)..

0

me-review hasil briefing & menegur efektif

hari ini Zuhara sudah di-briefing untuk menemani mamah ketemuan sama teman-teman di sebuah restoran.. point-point briefing yang disampaikan sudah jelas sih.. seperti

⁃ jam berapa kita berangkat, naik apa, kemana, tempatnya seperti apa, menu makanannya apa saja, pulang jam berapa, ketemu sama siapa aja

⁃ apa yang bisa Zuhara lakukan disana? alternatif kegiatannya dari mulai makan, ada playground/ngg, mau bawa ‘alat tempur’ apa saja dari rumah, mau pakai tas, baju, sepatu yang mana

⁃ perilaku yang diharapkan. seperti bersalaman dengan teman-teman, menjawab ketika ditanya, berbicara yang sopan, cara menyela pembicaraan bagaimana dll (ini dilakukan dengan role-playing)

melakukan briefing untuk Zuhara saat berpergian seperti ini sebenarnya cukup mudah, ketika role playing pun Zuhara fasih banget, tapiii realisasinya kadang ya berbeda. apa saja yang bisa dievaluasi hari ini?

⁃ mamah dkk kurang teliti memilih tempat, karena ternyata tempat tujuan kami masih tutup saat jam janjian.. untungnya, tempat penggantinya cukup familiar untuk Zuhara sehingga aman, aku hanya bilang ternyata tempatnya belum buka

⁃ saat sampai di tempat tujuan, aku langsung bertemu dengan salah satu temanku, saat itu Zuhara mulai ‘salting’ mungkin karena belum siap sehingga masih malu-malu.. saat role playing berkenalan (dan role playing ini cukup sering kami lakukan sebelumnya) Zuhara alhamdulillah fasih, lancar.. namun realita berkata lain, dia tetap malu-malu sehingga tidak mau bersalaman

⁃ alhamdulillah selama pertemuan berlangsung Zuhara cukup kooperatif, ditanyapun mau menjawab, sopan, mood nya juga bagus.. hanya sajaaa, mamah lupa bilang bahwa ada adik-adik yang ikut.. wah Zuhara kalau ketemu anak kecil masih gemes, pertama2 pegangnya sih pelan, lama2 ‘iseng’ ya kelitikin, ya cubitin pipinya, bahkan sebelum pulang dia mendorong salah satu anak teman mamah sehingga anaknya menangis sedih, karena adiknya excited ingin bergabung tapi didorong hiks!

⁃ peralatan tempur yg dibawa kurang dimanfaatkan dengan baik, sepertinya kendala ada di pensil warna yang ngga ‘jelas’ warnanya.. makanya Zuhara agak2 sebel kok ngga kelihatan sih mah warnanya.. tapi alhamdulillah Zuhara mau dibacain cerita.. ya lumayan sih, cuma mamah jadi ngga bisa ngobrol..

⁃ satu sih yang mamah syukuri adalah sekarang Zuhara sudah bisa bermain dengan temannya tanpa diawasi banget-banget, alhamdulillah di food court tempat kami berkumpul, ada playground sehingga Zuhara bisa bermain di jam-jam kritis yang mulai membosankan, mainnya bareng lagi sama anaknya temen mamah yg usianya terpaut 6 bulan lebih tua dr Zuhara.. alhamdulillah banget!

⁃ manners di tempat makan masih perlu dilatih seperti ngga duduk di atas meja, berdiri di atas kursi atau masuk2 ke kolong meja..

overall, untuk 4 jam pertemuan dari jam 13.30 hingga 17.30 ngga ada drama yg berarti, ya dari tulisan ini bisa jadi review lah bagaimana mem-briefing selanjutnya.. dan feeling aku saat membawa Zuhara berpergian memang terasa lebih nyaman. beda banget dengan dulu yang aku super khawatir kalau playdate, takut Zuhara mengganggu anak-anak lainnya..

oiya, kaidah komunikasi produktif yang diterapkan saat briefing sih mostly,

⁃ KISS (saat menjelaskan point2 penting)

⁃ menggunakan intonasi & ekspresi yang sesuai (ngga pakai nafsu untuk dituruti ya)

⁃ fokus ke depan (tidak mengungkit-ungkit kejadian masa lalu)

⁃ fokus pada solusi (apa yang bisa dilakukan jika bosan?)

⁃ jelas dalam memberikan pujian (saat Zuhara berhasil role-play dengan baik)

lalu bagaimana menghadapi situasi dimana perilaku Zuhara ‘berbeda’ dengan point briefing yang sudah disepakati? saat menegur, aku memakai kaidah menegur efektif atau menegur dengan jelas.. dengan tahapan :

– menunjukkan empati (mendefinisikan apa perasaan anak saat itu)

– mengatakan yang diinginkan (kalau aku biasanya dengan kalimat tanya, seharusnya gimana ya?)

– fokus pada solusi

(apa yang bisa dilakukan sekarang)

– memberikan pilihan solusi (mau mewarnai atau membaca atau yang lain?)

– memberikan pujian efektif (saat berhasil memperbaiki diri)

kesemua ini tentu dilakukan dengan menyesuaikan intonasi & ekspresi

sedikit sharing mengenai intonasi & ekspresi, bagaimana jika anak melakukan perilaku yang tidak diharapkan? apakah kita harus tetap tersenyum manis dengan suara mendayu-dayu?

kalau aku sendiri, ada perbedaan intonasi & ekspresi yang digunakan saat menegur. ngga harus bentak teriak plus melotot jutek sih.. cukup dengan intonasi rendah dan tegas plus ekspresi sedih / kecewa yang menunjukkan ketidaksukaan..

nah saat menegur ini kita juga bisa menggunakan komunikasi positif seperti tidak membuat malu anak di depan umum, fokus hanya pada anak dengan kontak mata sejajar, menerima perasaan anak, dan bentuk komunikasi non verbal yang jelas dalam menunjukkan disapproval atau approval..

mungkin ada yang merasa agak ribet yaaa menegur efektif ini, tapi ini jauh lebih baik sih daripada ancaman kosong, labeling, atau bohong. karena sebelumnya akupun mengalami kok lebih banyak melakukan labeling ini saat menegur daripada menegur efektif.

susah ngga prakteknya? di awal susah, maunya ngikutin nafsu, apalagi kalau ditambah selftalk ngga memberdayakan kaya : wah ngetes nih anak, ooo minta diomelin ya nantangin! dll, tapi kalau dilatih terus-terusan insyaAllah bisa banget ditrapin.. again, practice makes progress!

yaaa kadang step sepanjang ini harus diulang-ulang yaaa.. ngga yang dikasihtau sekali terus tiba-tiba Zuhara jadi princess lagi, sabar-sabar aja banyak2 berdo’a semoga hal seperti itu tidak mentrigger bangkitnya mamah ular..

insyaAllah ini jg jauh lebih efektif karena anak mengerti sekali, bahwa kita menegur karena kita sayang (peduli ingin anak jadi lebih baik), apa yang seharusnya diperbaiki & gimana solusinya, plusss ini bentuk respect kita sama anak.. (ngga bikin malu) dan yg terpenting kita terhindar dari kesalahan pengasuhan labeling, bohong & ancaman kosong.

selamat menyambut hari Senin!

sumber ilmu ; materi komunikasi produktif kelas bunda sayang, enlightening parenting, filosofi Montessori

0

mamah (semi) ular

ekspektasi aku terhadap anak kadang tinggi ya, terlebih di usia Zuhara yang sudah cukup besar (4 tahun), saat Zuhara berperilaku yang tidak sesuai ekspektasi biasanya muncul selftalk : harusnya dia udah tau dong kalau begini ngga boleh.. atauuu, perasaan kemarin udah ngerti deh, orang teorinya aja hapal banget sampai-sampai bisa nasehatin orang, lah kok sekarang begini..

ya kalau gitu mah bisa dibalik ya.. harusnya mamah ngga boleh melotot dong, kan udah tau melotot itu ngga baik.. atau harusnya mamah ngga marah-marah dong, kan udah belajar komunikasi produktif nah loh?!

di filosofi Montessori aku belajar konsep freedom within limitation, kebebasan yang berbatas.. eksplorasi anak sangat disupport dan diencourage tapi berbatas, selama tidak membahayan & tidak melanggar norma kebaikan (seperti sopan santun & tidak merugikan orang lain)

hari ini Zuhara ‘menggambari’ buku catatan aku.. Zuhara sebenernya sudah mengerti kalau mau menggambar di buku yang bukan miliknya, ya harus minta izin dulu..

sepele yah ‘yaelah cuma gambar-gambar doang, santai keleus, chill!!!’, tapi buat aku ngga.. karena ini terkait kesopanan..

satu yang bikin aku concern banget soal kesopanan ini adalah karena seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang menyepelekannya.. atau ada yang berpikir : yaudah sih santai aja, namanya juga anak-anak.. ooo ya ngga, justru karena masih anak-anak ya sedari dini mereka perlu mengerti sopan santun

terus ngga boleh banget nih gambar-gambar di buku? itu kan stimulasi juga.. justru bagus anaknya udah mau mengekspresikan diri dengan menggambar dll, ya boleh tentu saja.. tapi.. ada SOP nya dong.. apalagi ini menyangkut gambar-gambar di buku orang lain..

1. harus minta izin & dengan kalimat yang baik..

2. jika diizinkan, maka anak belajar bahwa meminjamkan itu adalah hal yang baik & menyenangkan.. baik bagi yang meminjamkan & yang dipinjamkan

3. jika tidak diizinkan, maka anak belajar bahwa menolak itu boleh selama dilakukan dengan cara yang baik & menerima penolakan adalah keniscayaan.. jika ditolak? tawarkan solusi, cari alternatif kegiatan lain..

terus respon ku gimana? aku mencoba melakukan komunikasi produktif seperti mengatakan yang diinginkan dan fokus pada solusi tapiii somehow jadi kaya di kantor polisi gtu deh..

setelah itu Zuhara minta maaf dengan jelas karena belum minta izin & bikin mamah kesulitan..

jujur saja saat melakukan conversation ini mamah ular udah bergejolak banget pengen ngeluarin bisa yang super beracunnn.. [insert excuses here] mengutip materi Komunikasi Produktif kelas Bunda Sayang : kosakata kita adalah output dari struktur berpikir & cara kita berpikir – see? kalau selftalknya masih ‘nafsu ingin dituruti’ output nya ya jadi kaya polisi menginterogasi tersangka ya..

tapi di sisi lain, ngerti banget ya aslinya kalau Zuhara juga pasti capek 12 jam keluar rumah, dan tentu saja banyak yang perlu diapresiasi dari perilaku Zuhara hari itu., bahkan untuk menjawab dengan jujur bahwa dia yang mencoret buku itu saja seharusnya, kalau emosi udah selesai, wajib banget diapresiasi dengan pujian efektif..

so, what can I do better next time?

⁃ jangan pelit-pelit memberikan pujian efektif, banyak hal yang di-take for granted, atau mindset bahwa : itu memang seharusnya begitu, jadi buat apa dipuji kan?

⁃ menyelesaikan emosi dengan tuntas tas tas sebelum menegur.. even if kita udah menjaga appearance luar, tapi output itu kan tergantung dari apa yang sedang bergejolak di dalam ya.. dan anak itu sensitif plus cerdas.. once masih ada kesel-kesel nafsu ingin dituruti, lebih baik cari timing yang tepat yaitu saat state emosi anak & terutama kita nya sih lagi resourceful sehingga ngga ada vibe negatif yang anak rasakan. ya pokoknya yang represent, mamah ini kasihtau kamu karena mamah sayang.. bukan karena mamah yang melahirkan kamu maka kamu harus nurut

after all, parenting is a journey sih, dan it’s a long long journey. kadang kita jalan, lari, tapi kadang juga kita jatuh, tapi yang perlu disyukuri adalah ketika kita jatuh, banyak yang mau bantuin kita untuk jalan lagi & kasih semangat biar bisa lari.. mungkin hari ini aku jatuh, tapi dengan menuliskan ini aku bisa mengevaluasi sehingga bisa melakukan perbaikan ke depannya. practice makes progress, right?

0

role-playing part 2

ngga kerasa nih perjalanan liburan tinggal menghitung hari~ sampai saat ini kita belum packing! padahal udah H-4.. zuhara udah nanya-nanya melulu kapan naik pesawatnyaaa hahahaha.. so, beberapa hari ini.. aku banyak me-utilize moment aja sama Zuhara sambil role-playing, sambil ngobrol mengenai situasi dan kondisi selama perjalanan disana nanti..

jalan kaki

sudah dua hari ini aku berjalan kaki sekitar 500m ke sekolah.. sambil berjalan kaki, aku mengingatkan Zuhara lagi bahwa disana kita akan banyak jalan.. Zuhara sempet agak riwil dengan bilang

tapi kalau jalan kaki terus nanti capeeek / ooo iya ya bisa capek juga.. terus kalau capek, Zuhara mau gimana? / kasihtau mamah terus duduk di stroller ya? / iyaaa.. kasihtaunya mamahnya gimana? / mah, Zuhara capek mau duduk di stroller / *usap-usap kepala Zuhara sambil senyum*

sempet juga saat jalan siang, Zuhara bilang :

mah kalau jalan kaki terus Zuhara kepanasaaan~ / ooo sekarang Zuhara kepanasan? / iyaaa.. / ooo beda nak, disana kan sedang musim gugur jadi insyaAllah suhunya dingin makanya Zuhara perlu pakai apa supaya ngga kedinginan ya? / jaket, sarung tangan, syal sama topi.. / iyaaa bener *usap-usap kepala sambil senyum* sekarang biar kepala Zuhara ngga kepanasan gimana kalau kita tutupin kepalanya? / iya..

kapan berangkat?

setiap kali Zuhara nanya, aku selalu jawab

insyaAllah selasa depan Zu.. coba yuk hitung berapa hari lagi? sekarang hari apa? / jum’at / habis jum’at? / *terus nyanyi lagu nama-nama hari* Sabtu / habis sabtu? / *nyanyi lagi* Minggu / habis minggu? / *nyanyi lagi, terus mentok* hmmm ngga tau / senin lagi, habis senin? / *nyanyi lagi* selasa.. / nah berarti berapa hari lagi yuk hitung / 1, 2, 3, 4 / 4!

perjalanan dari CGK ke NRT

dari mulai naik uber, hingga naik pesawat & sampai di bandara..

di pesawat nanti kita terbangnya lamaaa / Zuhara bisa tidur ngga mah? / bisa insyaAllah selain tidur Zuhara mau main apa? / ooo Zuhara ngga mau bawa mainan ah nanti hilang, Zuhara mau baca buku aja.. / okedeh

cara ngobrol selama disana

beberapa kali kami mencoba untuk berbisik-bisik selama mengobrol.. berpura-pura bahwa kami sedang ada di bus, kereta, restoran atau mushola

kesemua hal ini dilakukan dengan kaidah komunikasi produktif seperti KISS, mengendalikan intonasi & ekspresi, mengatakan yang diingingkan, fokus pada solusi, menunjukkan empati & memberikan pilihan

insyaAllah role-playing yang kita lakukan bermanfaat menyukseskan perjalanan yang less-drama yah Zu!